Jalan Rusak Golo Waso–Kembang Lala, Potret Nyata Infrastruktur Manggarai Timur yang Ditelantarkan





  jalur golo waso menuju kembang lala

 Langit biru cerah di atas Manggarai Timur, Kamis, 7 Mei 2026. Tapi di bawahnya, tepat di ruas jalan penghubung Golo Waso menuju Kembang Lala, pemandangan yang tersaji justru suram dan memprihatinkan.

Sebuah truk kuning berterpal biru tampak berhenti tak berdaya di tengah tanjakan. Bukan karena mogok mesin, tapi karena takluk oleh jalan. Di depannya, yang terbentang bukan aspal, melainkan kubangan tanah kering, batu-batu sebesar kepalan tangan, dan alur-alur dalam bekas roda yang mengeras. Seorang pria bertopi tampak mendorong bak truk, mempertaruhkan tenaganya melawan terjal dan rusaknya jalur yang seharusnya menjadi nadi ekonomi warga. Inilah wajah infrastruktur Manggarai Timur hari ini.

   Jalur Golo Waso–Kembang Lala bukan jalan setapak di kebun. Ini adalah urat nadi. Jalan ini dilalui petani yang mengangkut kopi, kemiri, dan hasil bumi ke pasar. Dilalui anak-anak sekolah yang harus berjalan berkilo-kilometer. Dilalui ibu hamil yang hendak melahirkan, dan orang sakit yang dirujuk ke puskesmas. Ketika jalan ini hancur, yang lumpuh bukan hanya kendaraan, tapi seluruh sendi kehidupan masyarakat.

Tiga Kritik Keras untuk Pemerintah

1. Pembangunan yang Tidak Merata adalah Bentuk Ketidakadilan

Kita terlalu sering mendengar jargon "pembangunan dari pinggiran". Tapi foto ini bicara lain. Bertahun-tahun warga Golo Waso dan Kembang Lala membayar pajak, ikut pemilu, dan setia pada negara. Namun apa yang mereka dapat? Jalan tanah berbatu yang bahkan di musim kemarau pun tak bisa dilalui dengan layak. Sementara di kota, proyek trotoar dan taman bisa dianggarkan miliaran rupiah. Ketimpangan ini bukan lagi soal geografis, tapi soal keberpihakan. Manggarai Timur bukan halaman belakang NTT. Warga di Golo Waso juga punya hak yang sama untuk menikmati jalan yang aman.

2. Biaya Ekonomi yang Dibebankan ke Rakyat Kecil

     Setiap kali sopir memaksa menanjak di jalan seperti ini, ada biaya yang diam-diam dibayar rakyat. Biaya solar yang boros karena mesin meraung di gigi satu. Biaya onderdil yang cepat rusak karena hantaman batu. Biaya waktu yang hilang karena perjalanan 1 jam menjadi 3 jam. Biaya hasil panen yang busuk di jalan karena terlambat sampai pasar. 

Ironisnya, semua kerugian ini ditanggung warga, bukan negara. Pemerintah daerah seolah membiarkan rakyat "menyubsidi" kelalaiannya sendiri dalam menyediakan infrastruktur dasar. Berapa triliun potensi ekonomi Manggarai Timur yang hilang setiap tahun hanya karena jalan rusak?

3. Ancaman Nyata Terhadap Keselamatan dan Kemanusiaan

   Jalan ini bukan sekadar tidak nyaman. Jalan ini berbahaya. Tanjakan terjal dengan material lepas seperti ini sangat rawan menyebabkan truk terguling. Apa jadinya jika yang melintas adalah ambulans membawa pasien gawat darurat? Berapa nyawa yang harus dipertaruhkan sebelum jalan ini dianggap "prioritas"?

Infrastruktur adalah soal nyawa. Ketika seorang ibu harus melahirkan di tandu karena mobil tidak bisa masuk, atau seorang anak terlambat sekolah karena jalan putus, maka ini bukan lagi masalah teknis. Ini masalah kemanusiaan dan kegagalan negara dalam menjalankan fungsi paling dasar: melindungi warganya.

Janji yang Tak Kunjung Di-aspal

Warga Manggarai Timur sudah terlalu kenyang dengan survei, pengukuran, dan janji kampanye yang datang setiap lima tahun. Yang mereka butuhkan adalah alat berat, aspal, dan kemauan politik yang nyata. 

Foto truk yang terjebak di Golo Waso ini seharusnya menampar kita semua. Menampar para pemangku kebijakan di Borong, di Kupang, hingga di Jakarta. Bahwa di tahun 2026, di era Indonesia Emas, masih ada warga negara yang harus mendorong nasibnya sendiri di jalan berbatu hanya untuk sekadar bertahan hidup.

Jalan adalah peradaban. Jika jalan menuju Kembang Lala masih seperti ini, maka jangan heran jika peradaban dan kesejahteraan juga enggan mampir ke sana.

Kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan Pemerintah Provinsi NTT: berhentilah membangun alasan. Mulailah membangun jalan. Karena setiap hari penundaan adalah satu hari penderitaan tambahan bagi rakyat yang kalian wakili.



                                   Fiandrianus Andro

                                   Kamis,7 Mei 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hingga H+6 Gempa, Warga Golo Pari Masih Menunggu: Kehadiran Negara di Mana?

Kekurangan